Ngalam Fun Camp 2020

Kurang lebih selama 4 bulan pemerintah Indonesia memberikan himbauan kepada masyarakat Indonesia untuk senantiasa tetap di rumah karena adanya pandemi covid-19. Oleh karena itu, seluruh aktivitas baik pekerjaan, pembelajaran dan lain sebagainya dilakukan di rumah sebagai bentuk pelaksanaan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setelah beberapa bulan berlalu, kini pemerintah mulai memberlakukan sistem “New Normal” yang mana dengan adanya era new normal ini, beberapa perusahaan, sekolah, tempat wisata dan tempat umum lainnya akan dibuka kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang telah ditetapkan olah pemerintah, seperti menggunakan masker, cuci tangan dimanapun berada dan selalu sedia hand sanitaizer.

Pada tanggal 19-20 September 2020, untuk menjawab tantangan new normal Santri Cendekia mengadakan giat alam dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Bertempat di Wisata Kebon Rojo, Dsn. Princi, Ds. Gading Kulon, Kec. Dau, Kab. Malang dengan jumlah peserta 60 pemuda dari berbagai latar belakang organisasi se-Malang Raya. Kegiatan ini bernama Ngalam Fun Camp yang mengusung tema ‘Kolaborasi dalam Toleransi’ sebagai rangkaian kegiatannya. Sehingga tujuannya pun sesuai dengan tema yakni, menjalin silaturahim antar organisasi, meningkatkan rasa peduli pada kelestarian alam, meningkatkan jiwa kemanusiaan, serta menjadi wadah dalam pengembangan diri bagi peserta.

Rangkaian kegiatan Ngalam Fun Camp dimulai dari (19/20) yakni peserta datang, pembukaan dan dilanjutkan dengan kegiatan sarasehan tadabbur alam yang diisi oleh Dr. Lutfi Hakim (Manusia dan Kehidupan Bersama) serta Komandan Nuruddiyan yang mengisi sarasehan dengan tema (Manusia dan Lingkungan). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan malam toleransi yang diisi dengan penampilan para peserta, mulai dari pembacaan puisi, bernyanyi sharing session tentang keberagaman serta penampilan BOMA BAND sebagai penutup acara pada hari pertama kegiatan.

Di hari kedua (20/10), kegiatan diawali dengan senam pagi dan dilanjutkan dengan materi sarasehan terakhir yang diisi oleh Dr. Mohammad Mahpur dengan tema (Character Building and Community Development). Sebagai puncak acara dari giat alam ini, panitia menyiapkan acara outbound training untuk merefresh seluruh kegiatan yang diisi dengan pembekalan materi. Dengan outbound training, peserta dapat belajar meningkatkan skill kerjasama tim dan mengatur strategi dengan baik untuk mendapatkan tujuan dari setiap tim.

Kegiatan Ngalam Fun Camp menjadi agenda tahunan yang akan diselenggarakan oleh Santri Cendekia. Mengumpulkan banyak pemuda dari berbagai lintas organisasi memberikan peluang besar untuk menambah relasi dan pengetahuan. Ngalam Fun Camp 2020 Nature, Love and Tolerance.(sc/na)

Selengkapnya, saksikan video ulasan dari kegiatan Ngalam Fun Camp 2020 di YouTube.

More Information :

Instagram :

  • @santricendekia.id
  • @santrievent.sc
  • @santriprivat.sc
  • @santripreneur.sc
  • @santrirobotik.sc

Whatsapp :

  • 082244906213
  • 089694420190

Email :

  • official@santricendekia.id

YouTube :

  • SANTRICENDEKIA

Khataman dan Penerimaan Sanad Metode Pembelajaran Al-Quran Bil Qolam kepada Tutor Santri Cendekia

Berbicara tentang ilmu, dalam islam merupakan hal yang sangat diperhatikan, terlebih bagi para ulama. Sebuah ilmu pengetahuan dalam islam sangat memperhatikan sanad agar dapat dipertanggungjawabkan dari mana ilmu itu berasal. Sanad merupakan tradisi ilmiah berupa rentetan rawi hadits yang sampai kepada Nabi Muhammad Saw. yang dilakukan oleh para ulama. Dengan adanya sanad ini, diharapkan segala ilmu dapat bersambung kepada Nabi Muhammad Saw. khususnya ilmu Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup seluruh umat muslim.

Pentingnya tradisi ilmiah dalam berilmu ini juga sangat diperhatikan oleh Santri Cendekia dalam mencetak para kader tutornya untuk mengajarkan ilmu Al-Qur’an. Sanad dan Ijazah para tutor Santri Cendekia ini tidak didapatkan secara instan, melainkan harus melalui beberapa tahap dengan mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an. Terhitung sejak Kamis, 2 Juli 2020 tutor Santri Cendekia mulai mengaji dengan Ustadz Muhammad Faishol Khoironi, beliau merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Ni’matul Iman yang berlokasi di daerah Dau. Metode yang digunakan adalah Bil Qolam (metode panduan belajar membaca Al-Quran dengan empat nada yang dilakukan secara talqin (guru mencontohkan), ittiba’ (siswa menirukan) dan‘urdhoh (pengulangan bacaan) yang bersanad kepada  KH. Bashori Alwi Murtadho. Sedangkan pemberian sanad oleh ustadz Faishol ini sudah berlaku selama 5 periode kepada para santri dan santriwati beliau.

            Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT tutor Santri Cendekia telah melalui beberapa tahap mengaji selama 5 bulan dan tepat pada hari Jumat, 4 Desember 2020 telah menyelesaikan bacaan 30 Juz Al-Qur’an. Setelah khatammembaca 30 juz Al-Qur’an, diadakan acara khataman yang bertempat di Masjid Pondok Pesantren Nurul Iman. Acara ini dimulai setelah Isya’ dan dihadiri oleh ustadz Nur Muhayat, ustadz Muhammad Faishol Khoironi, para santri dan santriwati Pondok Pesantren Nurul Iman, tetangga sekitar, dan para tutor Santri Cendekia yang menjadi peserta tashih bersanad. Pembacaan doa yang dipimpin oleh ustadz Nur Muhayat selaku ketua MWC NU kecamatan Dau mengawali acara khatamanpada malam hari itu. Acara dilanjut dengan maulidurrosul dengan membaca mauliddiba’ sekaligus memperingati Haul Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Solo. Tabuhan rebana yang dimainkan para santri dan santriwati Pondok Pesantren Ni’matul Iman mengiringi jalannya acara.

            Pembagian sanad dilaksanakan setelah acara khataman yang ditutup doa dari ustadz Nur Muhayat. Pemberian sanad ini dilakukan oleh ustadz Faishol langsung selaku guru kepada para santri yakni tutor Santri Cendekia.

“Dengan adanya sanad ini, kalian sudah mendapatkan izin untuk mengajarkan Al-Qur’an. Amalkan dan sampaikan ilmu yang telah saya berikan tanpa mengharap imbalan apapun, jangan menjadi sombong dengan sanad ini. Selalu ingat dan bacalah Al-Qur’an beserta sholawat. Kalau tidak sempat, ya sempatkan. Karena kedua hal tersebut sangat penting.” Pesan ustadz Faishol kepada para santri yang telah resmi mendapatkan sanad untuk mengajarkan Al-Qur’an seluas-luasnya kepada masyarakat.

            Dengan hal ini, Santri Cendekia selaku lembaga yang mewadahi kebutuhan masyarakat untuk belajar Al-Qur’an dengan mudah, tidak meninggalkan hal prinsipil untuk memberikan pengajaran yang berkualitas dengan sanad keilmuan yang jelas. (sc/af)

More Information :

Instagram :

  • @santricendekia.id
  • @santrievent.sc
  • @santriprivat.sc
  • @santripreneur.sc
  • @santrirobotik.sc

WhatsApp :

  • 082244906213
  • 089694420190

Email :

  • official@santricendekia.id

YouTube :

  • SANTRICENDEKIA

Penggalangan Dana dan Pembagian Masker, NU Malang Peduli Bekerjasama dengan Santri Cendekia

Minggu, 24 Januari 2021 NU Malang yang terdiri dari berbagai badan otonom Nahdlatul Ulama Kota dan Kabupaten Malang bekerjasama dengan Santri Cendekia melakukan penggalangan dana dan pembagian masker di sepanjang perempatan Kasin (Jl. KH. Hasyim Ashari, Jl. Ade Irma Suryani, Jl. Arif Margono, Jl. Brigjend. Katamso) Kota Malang. Penggalangan dana ini dilakukan untuk membantu korban bencana alam yang berturut-turut terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Sejak awal tahun 2021, bisa dikatakan Indonesia mengalami darurat bencana yang telah merenggut 184 nyawa terhitung hingga 23 Januari 2021. Bencana di Indonesia dimulai dari longsor Sumedang pada 9 Januari 2021, banjir Kalimantan Selatan pada 9 Januari 2021, gempa Mamuju dan Majene 14 Januari 2021, banjir dan longsor Manado pada 16 Januari 2021, erupsi gunung Semeru 16 Januari 2021 dan erupsi gunung Sinabung 17 Januari 2021. Rangkaian bencana yang terjadi berturut-turut ini menyebabkan kerusakan yang cukup parah dan banyak orang harus mengungsi dikarenakan hal tersebut. Oleh sebab itu, NU MALANG, Santri Cendekia dan beberapa organisasi lainnya bekerjasama untuk menyelenggarakan rangkaian acara penggalangan dana dan pembagian masker kepada warga sekitar disertai dengan penampilan dari BOMA musik untuk memberikan warna dalam kegiatan tersebut. Kegiatan dimulai dari pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 15.00 WIB dengan tetap menerapkan protokol kesehatan mengingat masih terjadi pandemic covid-19 di Kota Malang khususnya.

Kegiatan penggalangan dana seperti ini sudah selayaknya diadakan untuk membantu saudara yang tengah tertimpa musibah. Semakin banyak yang bisa kita kumpulkan, maka semakin banyak pula yang bisa kita berikan. Kita tentunya berharap agar senantiasa diberikan keamanan dan kenyamanan, Serta saat ada saudara sebangsa dan senegara membutuhkan, kita siap untuk saling meringankan.

Manfaat Senyum agar Lebih Sehat dan Bahagia

Tersenyum dan Bahagialah !

Tersenyumlah, sekelilingmu membutuhkan kebahagiaan yang terpancar dari energi positifmu. Tersenyum memberikan dampak yang baik untuk kesehatan tubuh bahkan  mampu menjadikan masalah-masalah yang kita hadapi terasa lebih ringan untuk diselesaikan. Tidak hanya itu, tersenyum kepada orang lain juga bernilai ibadah sedekah, sesuai dengan sabda Nabi yang sudah tidak asing terdengar.

Tubuh yang sehat menjadi impian bagi banyak orang. Berbagai tips hidup sehat melalui tersenyum dapat dilakukan sebagai terapi khusus yang mudah dan gratis.

Manfaat senyum menjadikan diri lebih sehat dan bahagia

Terdapat beberapa manfaat tersenyum yang sangat berguna untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda, Berikut alasan kenapa Anda harus senyum, meliputi:

Memperbaiki mood

Dapat mengelabuhi tubuh untuk membantu seseorang mengubah suasana hatinya menjadi lebih baik. Ketika mood Anda sedang berantakan, cobalah untuk perlahan tersenyum di depan cermin  agar tubuhmu dapat tertipu melalui sinyal otak yang menjadikkan hormon mood menjadi lebih baik dan suasana hati Anda akan lebih bahagia.

Mampu meredakan stres

Tubuh melepaskan hormon endorfin yang mampu mengurangi dan menyingkirkan hormon pemicu stres. Raut wajah yang bahagia sebenarnya terdapat timbal balik terhadap pikiran dan hati. Maka menjadi penting dalam kehidupan dilingkupi dengan hal-hal yang positif untuk mengatur dan menyelesaikan masalah dengan tenang tanpa menimbulkan stress.

Meningkatkan daya tahan tubuh

Senyum yang tulus mampu mengefektifkan sistem kekebalan tubuh manusia. Hal ini terjadi karena timbul perasaan rileks berkat pelepasan neurotransmiter (senyawa penyampai pesan) positif yang terdapat di otak mampu meningkatkan imun tubuh sehingga terhindar dari berbagai penyakit ringan.

Menurunkan tekanan darah

Memicu relaksasi otot dan penurunan denyut jantung serta tekanan darah sehingga akan terhindar dari penyakit kronis. Bisa dilakukan ketika Anda sedang tegang terhadap pekerjaan, berhentilah sejak dan tersenyum, maka akan terjadi kestabilan tekanan darah dan suasana hati yang lebih nyaman untuk kembali bekerja.

Terlihat awet muda

Tidak hanya membuat lebih manis dan menarik, senyuman bisa membuat kita terlihat lebih muda. Ketika seseorang sering marah dan cemberut, keriput di kening akan muncul lebih awal begitu pula keriput pada garis bibir, pipi dan dagu. Senyum yang tulus bisa membuat wajah seseorang terlihat lebih good locking dibandingkan dengan mereka yang tidak tersenyum.

Menyehatkan paru-paru

Ketika tersenyum dan tertawa, organ paru-paru bisa mengembang dan terisi lebih banyak oksigen. Sehingga paru-paru kaya akan oksigen dan lebih bersih.

Meningkatkan kreativitas dan kesabaran

Seseorang yang lebih banyak tersenyum mampu mengatasi masalah dan berpikir kreatif dengan sangat baik. Bahkan tersenyum juga berpengaruh terhadap peningkatan rasa percaya diri dalam menjalani suatu pekerjaan menjadi lebih sukses.

Berbagi energi positif

Sebuah senyuman itu juga menular. Anda tidak hanya merasa lebih baik ketika tersenyum, tetapi juga memengaruhi perasaan orang lain di sekitar Anda. Dengan tersenyum, kita akan membangun citra dan hubungan yang positif dengan orang-orang di sekitar Anda serta mampu meningkatkan kualitas hidup lebih nyaman dan bahagia.

 

Cobalah tersenyum daripada harus cemberut dan murung terhadap sebuah pekejaan. Lakukan hal tersebut dan nikmati manfaatnya mulai dari sekarang!

5 Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam al Ghazali yang Harus Anda Ketahui

Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam al Ghazali

Adab menuntut ilmu merupakan bentuk penerapan akhlak yang baik (mulia). Adab menjadi suatu kewajiban yang harus dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Adab sangat diperhatikan dalam mengharap keridloan dan keberkahan terhadap kebermanfaatan ilmu yang akan dipelajari. Imam Malik juga menekankan dalam hal ini, pernah berkata kepada kaum Quraisy: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu”. Maka penting bagi seorang pelajar terutama santri yang belajar ilmu Agama Islam dalam lingkungan pesantren dengan menerapkan adab kepada ustad dan kyai, bahkan terhadap hewan peliharaan kyai (tradisi  pesantren kepada keluarga ndalem).

Berikut adab menuntut ilmu serta penjelasan lengkap menurut Imam al Ghazali yang harus Anda ketahui:

1. Suci jasmani dan rohani

Menjaga keadaan diri melalui wudlu serta membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela.  Melalui tahapan ini suci baik jasmani maupun rohani menjadi suatu perantara awal untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam menuntut ilmu.

2. Rendah hati dan tidak sombong

Tunduk pada perintah guru dan tidak merasa lebih pintar dari yang lain. Dalam hal ini santri harus melandasi pikiran dan hatinya untuk menanamkan rasa tidak lebih alim terhadap gurunya agar dapat menghindari sifat sombong.

3. Bersungguh-sungguh dalam belajar

Siap mengorbankan apapun untuk ilmu, baik harta, waktu maupun tenaga atau meninggalkan yang lainnya demi belajar. Berbagai cara dapat dilakukan agar menjadi santri yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, antara lain: mengurangi hal-hal yang dapat menggangu fokus terhadap proses belajar, menuntut ilmu di tempat atau daerah lain, dan menggunakan waktu dengan sebaik mungkin dalam proses belajar. Bahkan dalam hal fokus dalam belajar Imam al Gazali “Ilmu tidak akan memberikan sebagian darinya sampai Kamu memberikan keseluruhan dari dirimu kepadanya”. Maka menuntut ilmu harus totalitas dalam proses disertai dengan doa agar selalu dipermudahkan dalam memahami ilmu tersebut.

4. Hindari perselisihan

Bila ada perbedaan pendapat utamakan solusi kembalikan pada agama dan Allah. Hendaknya topik-topik pembahasan yang menimbulkan perdebatan untuk dihindari dengan menacari sumber-sumbet pendapat yang dapat menjelaskan suatu topik bahasan. Dalam kajian Islam tentang syariat sangat banyak prespektif, maka penting dalam menunjukkan rujukan mazhab yang digunakan agar saling bisa memahami suatu perbedaan.

5. Tuntas dalam memahami ilmu

Menekuni ilmu yang dipelajari sampai paham sehingga dapat diajarkan kepada orang lain. Dalam mempelajari disiplin ilmu hendaknya dilakukan dengan runtut, dimulai dengan pembahasan yang sangat mendasar setelah itu pembahasan yang selanjutnya agar memudahkan dalam memahami ilmu secara utuh tanpa ada disinformasi.

Adab menuntut ilmu menurut Imam al Ghazali tersebut dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar suatu ilmu yang Anda pelajari dapat bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat sebagai amal jariyah yang tidak terputus.

pentingnya belajar

  • Dalam kitab  Adab al-Alim wa al-Muta’allim , Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengawali pembahasan dengan mengulas tentang keutamaan ilmu, ulama, belajar, dan mempelajari ilmu. Dia memaparkan beberapa dalil Al-Qur’an dan al-Hadits serta pernyataan para sahabat Nabi dan ulama yang menjelaskan hal itu.    Tentang keutamaan ulama, meminta dia mencantumkan ayat Al-Qur’an:   يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ   ” Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman antara kalian dan orang-orang yang berhak ilmu ” (QS Al-Mujadalah ayat 11).   Menurut KH Hasyim Asy’ari, alasan Allah menaikkan derajat para ahli ilmu adalah karena mereka dapat mengaplikasikan ilmu mereka dalam kehidupannya. Dia memberikan tafsir (interpretasi) ayat di atas sebagai berikut:   أي ويرفع العلماء منكم درجات بما جمعوا من العلم والعمل   ” Maksudnya Allah mengangkat derajat ulama dari kalian alasan mereka mampu mendukung ilmu dan amal .”    Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menjelaskan selisih derajat ulama terhadap orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sabda Sahabat Ibnu ‘Abbas:   درجات العلماء فوق المؤمنين بسبعمائة درجة درجة ما بين الدرجتين خمسمائة عام   ” Para ulama memiliki derajat yang lebih tinggi dari orang-orang mukmin pada saat selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun .”    Apa yang disampaikan KH Hasyim Asy’ari ini senada dengan penjelasan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith dalam kitab al-Manhaj al-Sawi. Habib Zain menjelaskan alasan terpautnya selisih derajat yang sangat jauh antara orang berilmu dan selainnya dalam statemen dia sebagai berikut:    قلت وذلك لأن العلم أساس العبادات ومنبع الخيرات كما أن الجهل رأس كل شر وأصل جميع البليات.   “ Aku berkata. Oleh karena itu, ilmu adalah ibadah ibadah dan sumber pertolongan, kebodohan adalah pangkal setiap keburukan dan sumber seluruh musibah ”(al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith,  al-Manhaj al-Sawi , hal. 77).   Hadratussyekh selanjutnya mengutip ayat ” Allah, para malaikat dan orang-orang yang berilmu bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya .” (QS Ali Imran ayat 18). Dalam ayat tersebut Allah Swt telah mengawali dengan penyebutan Allah sendiri, selanjutnya mengutip para malaikat-Nya dan terakhir mengutip para pakar sains, penyebutan ini sangat memadai untuk membahas apa yang dimaksud dengan kedudukan tinggi di sisi-Nya.   KH Hasyim Asy’ari menentukan bahwa ada dua ayat yang menunjukkan bahwa ulama adalah yang terbaik. Pertama firman Allah:    إِنَّما يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبادِهِ الْعُلَماءُ   ” Hamba Allah yang takut kepada Allah hanya para ulama ” (QS Fathir ayat 28).    Kedua kata Allah dalam surat al-Bayyinah:   إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ أُولئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ   “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, merekalah yang terbaik ” (QS Al-Bayyinah ayat 7).    Setelah mengutip dua ayat di atas, Hadratussyekh memberi kesimpulan:   فاقتضت الآيتان أن العلماء هم الذين يخشون الله تعالى والذين يخشون الله هم خير البرية فينتج أن العلمايري   “ Dua ayat di atas meminta para ulama adalah mereka yang takut kepada Allah, orang-orang yang takut kepada Allah adalah yang terbaik. Maka dari itulah para ulama adalah yang terbaik . ”   KH Hasyim Asy’ari juga mendasari pendapatnya tentang keutamaan ulama dengan beberapa hadits Nabi, di setuju: “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah Swt, maka Allah akan memberikan pertolongan yang sesuai dengan agama.” (HR al-Bukhari dan Muslim).   Dalam hadits lain dinyatakan “Para ulama merupakan pewaris para Nabi.” (HR al-Tirmidzi dan lainnya). KH Hasyim Asy’ari mengungkapkan bahwa derajat sebagai pewaris para nabi yang diminta dalam hadits memberikan bukti kuat yang memiliki kedudukan yang sangat agung dan mulia, bahkan merupakan derajat yang terbaik sepeninggal para nabi. Berikut kesimpulannya dengan argumentasi sebagai berikut:   وإذا كان لا رتبة فوق النبوة فلا شرف فوق شرف الوراثة لتلك الرتبة   “Ketika tidak ada derajat yang lebih tinggi dari derajat kenabian, maka tidak ada kemuliaan yang bisa mengalahkan kemuliaan para pewaris derajat kenabian tersebut (yaitu para ulama).”
    Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa puncak dari keilmuan seseorang adalah pengamalan sains dalam kehidupan sehari-hari, sebab hal itu merupakan buah dari ilmu dan faedah kemakmuran dari umur seseorang serta menjadi bekal yang akan membantu di akhirat kelak, maka siapa pun yang dapat membantu menggapai itu semua maka ia akan berbahagia di dunia juga di akhirat, dan barangsiapa yang tidak dapat menggapainya maka ia akan berada dalam kerugian.   Hadratussyekh juga menyampaikan hadits Nabi tentang menggantikan ahli ibadah dan ulama. Ditempatkan dalam sebuah cerita tentang orang sowan menghadap baginda Nabi Muhammad Saw, salah seorang di antara mereka merupakan ahli ibadah, sedang yang lain merupakan ahli sains. Nabi berkata tentang memutuskan sepenuhnya dalam sabda beliau “Orang utan yang berilmu berada di atas orang yang ahli ibadah layaknya keutamaanku orang utan orang paling rendah derajatnya di antara kamu” (HR al-Tirmidzi).   Belajarlah! Berkait dengan keutamaan mencari ilmu, KH Hasyim Asy’ari menyebut hadits Nabi “Barangsiapa yang mencari jalan untuk mencari ilmu, maka Allah  subhanahu wata’ala  akan mencari jalan menuju surga” (HR Ahmad, Abu Daud dan lainnya). Dalam hadits lain Nabi bersabda “Mencari ilmu yang mewakili setiap orang Islam, laki-laki dan perempuan. Setiap sesuatu yang di dunia ini akan memintakan pengampunan kepada Allah Swt untuk para pencari ilmu, untuk ikan di laut pun ikut memintakan pengampunan berusaha. ” (HR Abu Daud, al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).   Sebagai catatan tambahan, doa pengampunan ikan-ikan di laut untuk orang berilmu tidak hanya dapat dipanjatkan saat mereka hidup, namun juga berlaku setelah akhir untuk kiamat, sebab ilmu ulama akan senantiasa bermanfaat setelah mereka wafat selama hari kiamat. Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menerima:   قلت واستغفار حيتان البحر للعالم يكون في حياته وبعد مماته إلى يوم القيامة لأن العلم ينتفع به بعد موت العالم إلى يوم القيامة وفي هذا دليل على شرف العلم وتقدم أهله وأن من أوتيه فقد أوتي فضلا عظيما   “Aku berkata, pengampunan ikan-ikan laut untuk orang-orang yang terjadi di masa depan dan setelah kewafatannya hingga hari kiamat. Sebab ilmu akan terus digunakan setelah kematian orang hingga hari kiamat. Ini adalah petunjuk atas kemuliaan ilmu dan ahli ilmu unggul, sungguh orang yang berhak ilmu, maka sungguh berhak keutamaan yang agung . “(Habib Zain bin Ibrahim bin Smith,  al-Manhaj al-Sawi , hal. 77).   Dalam kunjungan lain, “ Barangsiapa berangkat di pagi hari untuk mencari ilmu, malaikat memintakan ampunan untuknya dan diberkahi melewati ” (HR Abu Umar al-Qurthubi). Riwayat lain menyebutkan “Barangsiapa yang pindah ke Masjid di dalam tidak boleh dikeluarkan untuk belajar ilmu maka ia akan mendapatkan pahala layaknya pahala orang yang berhaji lengkap” (HR al-Thabrani).    Kedekatan orang alim dan pembelajar diibaratkan Nabi seperti dua jari telunjuk dan jari tengah, saling berhubungan menempel, derajat mereka berdua jauh meninggalkan manusia yang lain. Dalam sebuah diskusi Nabi bersabda ” Orang alim dan pembelajar layaknya jari ini dan jari yang ini (dia mengumpulkan jari telunjuk dan jari tengah yang berada di sebelahnya), bersekutu di pahala, tiada demi manusia, ” kata HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim dan lainnya).   Nabi berpesan agar umatnya tidak melepaskan diri dari salah satu status, yaitu ahli ilmu, pembelajar, pendengar dan pecinta mereka. Dalam sebuah laporan dia bersabda ” Jadilah orang yang suka belajar orang lain atau belajar orang yang senantiasa mendengarkan ilmu atau orang yang suka akan hal itu dan jangan sampai kamu menjadi orang yang ke lima, sebab kamu akan menjadi orang yang mengalami kerusakan ” (HR al- Thabrani, al-Darimi dan lainnya).   Orang-orang yang mengulas dalam hadits di atas adalah mereka yang membenci ilmu dan ulama. Syekh Abdurrauf al-Manawi mengatakan:   قال عطاء وقال لي مسعر زدتنا خامسة لم تكن عندنا والخامسة أن تبغض العلم وأهله فتكون من الهالكين وقال ابن عبد الله البر: هي معاداة العلماء أو بغضهم ومن لم يحبهم فقد أبغضهم أو قارب وفيه الهلاك   “Atha ‘katakan, katakan kepadaku Mis’ar, tambahkanlah yang menerima yang tidak ada di pihak kami, yaitu ikut membenci ilmu dan ahlinya, maka akibatnya melibatkan orang-orang yang rusak. Berkata Ibnu Abd al-Barr, yang dikunjungi adalah memusuhi ulama atau membencinya. Barangsiapa bukan cinta ulama maka ia telah membencinya atau meminta benci dan di situlah kebinasaan ”(Syekh Abdurrauf al-Manawi,  Faidl al-Qadir , juz 2, hal. 17).

    Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/110350/keutamaan-belajar-dan-mengajarkan-ilmu-menurut-kh-hasyim-asy-ari–1-

Memotong Kuku Bagi Orang yang akan melaksanakan Qurban

2015. MAKRUH MOTONG KUKU BAGI YANG AKAN QURBAN PADA 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH
PERTANYAAN :
Ki Jamil Rogo
Assalamualikum wr.wb. para ustadz yang saya hormati. saya mau tanya apakah orang yang mau berqurban tidak boleh memotong kuku dan rambut sampai mulai tgl 1 s/d 10 dzulhijah ? suwun atas jawabanya
JAWABAN :
> Dewan Masjid Assalaam
Makruh tanzih, dalam arti tidak makruh jika orang tersebut tidak hendak berkurban.
باب الأضحية هي سنة مؤكدة يندب لمن ارادها ان لا يحلق شعره ولا يقلم ظفره فى عشر ذى الحجة حتى يضحى فان ازال شيأ من ذالك كره كراهة تنزيه
Bab Qurban. Qurban itu sunnah muakkadah. Disunnahkan bagi yang hendak berkurban untuk tidak mencukur rambut dan memotong kuku di 10 hari pertama dzulhijjah sampai dengan ia memotong qurbannya. Apabila ia menghilangkan sesuatu dari rambut atau kukunya maka makruh tanzih. [ Anwarul Masalik ].
> Abdur Rahman As-syafi’i II
Bukan hanya sebatas kuku dan rambut, tetapi juga bagian tubuh yang lain tangan, gigi ,kumis, janggut dll. Adapun hikmah dibalik itu semua adalah agar semuanya mendapatkan ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketentuan ini berlaku baik untuk qurban sendiri atau qurban hadiah
و يكره) لمريد التضحية عن نفسه او اهداء شئ من النعم (ان يزيل شيئا من شعره او غيره) كظفره و سائر اجزائه الظاهرة الا الدم على خلاف فيه (فى عشر ذى الحجة) و ما بعدها من ايام التشريق ان لم يضح يوم العيد (حتى يضحى) للامر بالامساك عن ذلك في خبر مسلم. و حكمته شمول المغفرة و العتق من النار لجميعه لا التشبه بالمحرمين و الا لكره نحو الطيب و قيل يحرم مالم يحتاج اليه و عليه احمد فان احتاج فقد يجب كقطع يد سارق و ختان بالغ و قد يسن كختان صبي و قد يباح كقطع سن وجعة   بشرى الكريم ٢/١٢٨
> Anita Bidadari
Imam Nawawi menjelaskan dalam Syarah Muslim :
الحاشية رقم: 1
قوله صلى الله عليه وسلم : ( إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا ) وفي رواية : ( فلا يأخذن شعرا ولا يقلمن ظفرا ) واختلف العلماء فيمن دخلت عليه عشر ذي الحجة وأراد أن يضحي ، فقال سعيد بن المسيب ، وربيعة ، وأحمد ، وإسحاق ، وداود وبعض أصحاب الشافعي : إنه يحرم عليه أخذ شيء من شعره وأظفاره حتى يضحي في وقت الأضحية ، وقال الشافعي وأصحابه : هو مكروه كراهة تنزيه وليس بحرام ، وقال أبو حنيفة : لا يكره ، وقال مالك في رواية : لا يكره ، وفي رواية : يكره ، وفي رواية : يحرم في التطوع دون الواجب ، واحتج من حرم بهذه الأحاديث ، واحتج الشافعي والآخرون بحديث عائشة – رضي الله عنها – ” قالت : كنت أفتل قلائد هدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم يقلده ، ويبعث به ولا يحرم عليه شيء أحله الله حتى ينحر هديه ” رواه البخاري ومسلم .
قال الشافعي : البعث بالهدي أكثر من إرادة التضحية ، فدل على أنه لا يحرم ذلك وحمل أحاديث النهي على كراهة التنزيه .
قال أصحابنا : والمراد بالنهي عن أخذ الظفر والشعر النهي عن إزالة الظفر بقلم أو كسر أو غيره ، والمنع من إزالة الشعر بحلق أو تقصير أو نتف أو إحراق أو أخذه بنورة أو غير ذلك ، وسواء شعر الإبط والشارب [ ص: 120 ] والعانة والرأس ، وغير ذلك من شعور بدنه ، قال إبراهيم المروزي وغيره من أصحابنا : حكم أجزاء البدن كلها حكم الشعر والظفر ، ودليله الرواية السابقة : ( فلا يمس من شعره وبشره شيئا ) قال أصحابنا : والحكمة في النهي أن يبقى كامل الأجزاء ليعتق من النار ، وقيل : التشبه بالمحرم ، قال أصحابنا : هذا غلط ؛ لأنه لا يعتزل النساء ولا يترك الطيب واللباس وغير ذلك مما يتركه المحرم .
Artinya : “ Sabda Rasulullah SAW:” “Jika (Salah seorang) telah masuk sepuluh (Dzul Hijjah), sedangkan ia memiliki hewan kurban yang hendak dikurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku.” Dan dalam satu riwayat :” hendaknya ia tidak mencukur rambut dan tidak memotong kuku terlebih dahulu.”
Para Ulama berbeda pendapat tentang orang yang memasuki tanggal 10 bulan Dzulhijjah dan ingin berkurban. Sa’id bin Musayyab , Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Daud dan sebagian sahabat-sahabat Syafi’I berpendapat : Haram atasnya sesuatu dari rambut dan kukunya sehingga datang waktu berkurban.
As Syafi’I dan Sahabat-sahabatnya berpendapat hal itu dimakruhkan dengan makruh tanjih tidak sampai haram.
Abu Hanifah berpendapat tidak makruh.
Imam Malik dalam salah satu riwayat berpendapat tidak makruh. Tetapi dalam riwayat lain berpendapat makruh. Dan dalam salah satu riwayat berpendapat haram dalam Qurban sunnah dan tidak haram dalam qurban wajib.


As Syafi’I dan yang lainnya berargumentasi dengan Hadis ‘Aisyah RA beliau berkata : Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Aku mengikatkan tali pada hewan qurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengikatnya kembali dengan tangan Beliau lalu mengirimnya . Maka sejak itu tidak ada yang diharamkan lagi bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari apa-apa yang Allah halalkan hingga hewan qurban disembelih” diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
As Syafi’I berkata : Mengirim hewan Qurban lebih banyak dari pada ingin berqurban, maka ini menunjukan bahwa hal itu tidak diharamkan dan hadis-hadis larangan membawa pengertian makruh tanjih.
Sahabat-sahabat kami ( As Syafi’i) berkata : Yang dikehendaki dengan larangan mengambil kuku dan rambut yaitu larangan memotong kuku atau membelah atau dengan cara lainyya, dan larangan menghilangkan rambut adalah menghilangkan rambut dengan cara cukur, memotong, mencabut, membakar, mengambilnya dengan kapur atau dengan cara yang lainnya. Apakah itu rambut ketiak, jenggot, Rambut kemaluan, Kepala dan rambut-rambut lain yang terdapat di badan.”
Sahbt-sahabat kami, Ibrahim Al Marjawi dan yang lainyya berkata : hukum seluruh angota badan adalah hukumnya rambut dan kuku, dan dalilnya dalah riwayat yang telah : “ lalu hendaknya ia tidak menyentuhkan sesuatupun akan rambut dan kulit.”
Sahabat-sahabatku berkata : “hikmah dalam larangan itu adalah supaya semua anggota badan tetap dibebaskan dari Neraka, dan dikatakan : “ serupa dengan orang yang ihram.” Sahabat-sahabatku berkata : pendapat ini salah (karena orang yang berkurban) tidak menghindari istri, tidak meninggalkan wewangian, pakaian dan yang lainnya berupa laranga-larangan ihram.
____________

Pelatihan Kedua Guru Privat Santri Cendekia

Alhamdulillah, Santri Cendekia sudah menyelenggarakan pelatihan kedua untuk calon guru  privat looh. Pelatihan diisi oleh Ustadz Luthfi Hakim, M.pd, dosen UIN Maliki Malang. Perlatihan kedua dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 23 Februari  2020, bertempat di PP. As Syifa’, Lowokwaru, Kota Malang.

Dalam pelatihan kedua ini, materi yang disampaikan adalah tentang Ghorib dalam Al-Qur’an dan huruf-huruf muqotho’ah. Tujuan dari pelatihan kedua ini adalah sebagai penyeragaman bacaan huruf-huruf muqotho’ah yang ada didalam Al-Qur’an.

 

PELATIHAN PERTAMA GURU (SANTRI PRIVAT)

Alhamdulillah, Santri Cendekia sudah menyelenggarakan pelatihan pertama untuk calon guru   Santri Privat. Pelatihan dilaksanakan pada hari Minggu, tanggal 9 Februari 2020, bertempat di Aula PP. Kedokteran Ar-Rozi UNISMA. Pelatihan diisi oleh Ustadz Faishol Khoironi,  salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Ni’matul Iman. Materi Pelatihan yang disampaikan adalah pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Bil Qolam. Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran guru Santri Privat untuk bisa berbagi ilmu dengan santri yang akan diajarinya nanti.

 

Pentingnya Sanad Keilmuan Seorang Guru

Fenomena salah membaca ayat Al-Quran oleh ustadz di media (dakwah) Youtube yang cukup viral, Saya jadikan pintu masuk untuk menjelaskan pentingnya belajar Islam tidak serta merta atau instan dalam kuliah tujuh menit (kultum) di komplek kediaman saya bakda salat Subuh.

Saat ini di medsos (Media sosial-ed) orang-orang beragama (Islam) mudah sekali tersulut oleh ceramah ustaz yang belum jelas sanad keilmuannya. Salah tulis, salah baca ayat Al-Quran berdampak pada makna dan pengamalan agamanya.

Dalam konteks itulah, belajar Al-Quran, baik bacaan atau pemahamannya perlu guru dan sanad keilmuan yang berijazah gurunya, bukan sekadar selembar ijazah formal. Untuk membaca Al-Quran, selain guru yang bersanad juga kitab pegangan yang jelas. Salah satunya untuk membaca Al-Quran kita juga harus tahu kitabnya.

Hidayatush Shibyan misalnya, harus dijadikan kitab dasar untuk ilmu tajwid, kitab tata cara membaca Al-Quran yang benar. Kitab tajwid ini ada standarnya, baik untuk tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Saya sendiri belajar kali pertama hidayatush shibyan, saat kelas SD, dengan hafalan nadhom-nya (bait-ed). Jika tidak hafal nadhom dari awal sampai akhir, maka dikenai sanksi berdiri di kelas sambil menghafal ulang. Jika sudah hafal, setor lagi, sampai tuntas. Pada saat di Madrasah Diniyah Wustho Krapyak, kitab tajwidnya beda lagi dan lebih tinggi lagi.

Hal yang sama juga untuk memahami kandungannya, kita semua perlu pegangan kitab tafsir Al-Quran dan jelas gurunya. Di lingkungan pesantren, kitab tafsir yang sangat popular bernama Tafsir al-Jalalain. Tafsir ini hampir semua pesantren ala NU pasti mengajarkannya. Bisa jadi tafsir ini salah satu kitab tafsir untuk kelas santri menengah ke bawah. Kitab tafsir juga bertingkat, ada yang perspektif sastra, sains, filsafat, sufi, dst. Ragamnya kitab tafsir itu juga dilatarbelakangi karena setiap ulama mempunyai perspektif keilmuan sendiri. Saya belum menemukan kitab tafsir, yang menyalahkan mufassir lainnya. Jadi, aneh sekali, kalau ada muballigh kok mudah sekali menyalahkan ulama lainnya.

Oleh karena itu, sekali lagi, belajar agama (Islam) tidak bisa hanya mengandalkan Google sebagai guru atau kitabnya. Kita semua harus bertahap dan berjenjang dalam membaca, memahami dan mengamalkannya. Belajar ilmu itu tidak ada habisnya, dari buaian hingga liang lahat. Wajar saja, kalau Nabi Muhammad Saw, bersabda seperti itu, supaya kita tidak merasa paling pinter sendiri, alias tidak sombong.

Jika ada bacaan Al-Quran saat shalat tarawih kok sangat cepat sekali, misalnya, jangan langsung dituduh salah atau negatif lainnya, karena bisa jadi mereka lebih tahu ilmunya, seperti di Krapyak yang membaca itu ada juga yang ahli Qira’at Sab’ah. Dengan demikian, kita yang belum sampai maqamnya, janganlah merasa diri paling benar, atau menyalahkan orang lain.

Tidak cukup sekadar manjadi takmir atau marbot lalu mengajar Al-Quran di masjid tanpa sdan keilmuan yang jelas. Semoga dengan penyampaian singkat di pagi hari itu, perubahan pola belajar agama Islam, minimal di komplek kita masing-masing dapat berubah. Begitupun dg cara belajar Islam yang hanya dari medsos, google semestinya diubah. Sehingga orang belajar Islam itu bukan mudah menyalahkan orang lain yg berbeda guru dan kitabnya, apalagi dalam hal baca dan tulisnya saja sudah salah menurut ilmunya.

Ulama itu pewaris para Nabi, oleh karena itu, dakwahnya ulama pun mengikuti Nabi, seperti mau mendengar, mau mengerjakan sendiri, tidak menyalahkan orang lain, santun, dan tidak saklek. Contohlah teladan walisongo dalam sejarah Islam di Jawa. Lokalitas tidak perlu dimusuhi, tetapi dijadikan alat dan strategi dakwah para wali.